pernikahan suku bugis

Mengenal Suku Bugis: Adat Istiadat dan Kebudayaan yang Masih Lestari

Total
0
Shares

Mengenal lebih dalam dengan Suku Bugis yang masih mempertahankan Tradisi, Adat Istiadat dan Kebudayaan nenek moyangnya. Indonesia menjadi salah satu negara dengan keragaman suku budaya yang dimilikinya. Salah satu dari sekian banyak suku yang ada di Indonesia adalah Suku Bugis.

Suku ini menjadi salah satu suku yang cukup terkenal di Nusantara. Hal tersebut karena Suku Bugis masih mempertahankan harga diri dan kebudayaan yang dimilikinya hingga saat ini.

Meskipun zaman semakin modern, namun hal tersebut tidak membuat Suku Bugis meninggalkan tradisi yang sudah diwariskan oleh para leluhur kepada mereka.

Salah satu bukti yang menyatakan bahwa Suku Bugis masih memegang teguh kebudayaan dan adat yang dimilikinya ialah pada saat ada seseorang terbukti melakukan kesalahan, meski sekecil apapun ia akan ditindak tegas. Meskipun yang melakukan kesalahan adalah keluarga ataupun kerabatnya sendiri.

Tak hanya itu, ada banyak sekali keunikan tradisi yang dimiliki oleh suku Bugis ini jika dibandingkan dengan suku lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Nah, adapun beberapa keragaman yang dimiliki oleh Suku Bugis ini sendiri ialah sebagai berikut:

Adat Istiadat Suku Bugis

Suatu suku pastinya tidak lepas dari yang namanya adat istiadat. Adat istiadat itulah yang kemudian dikenal sebagai kebudayaan. Karena di dalamnya terdapat berbagai macam kebudayaan yang berasal dari adat suatu daerah.

Kebudayaan itu di antaranya berupa rumah adat, tarian, acara pernikahan, dan berbagai kegiatan lainnya yang sudah rutin dilakukan sejak dulu sehingga membudaya. Berikut adalah beberapa adat istiadat yang dimiliki oleh Suku Bugis:

1. Rumah Adat Suku Bugis

rumah adat suku bugis

Setiap suku yang ada di Indonesia memiliki bentuk rumah adat yang berbeda-beda. Begitupun dengan rumah adat yang dimiliki oleh Suku Bugis. Nah, ada yang menarik dari rumah adat yang dimiliki oleh suku tersebut.

Dimana, rumah adat yang dimiliki oleh Suku Bugis dibangun tanpa menggunakan paku satu pun. Bahkan, paku tersebut diganti dengan menggunakan besi ataupun kayu.

Ternyata, rumah adat dari Suku Bugis terdiri atas 2 jenis. Yakni Rumah Saoraja yang diperuntukkan untuk kaum bangsawan. Hal tersebut cukup berbeda dengan rumah adat yang dimiliki oleh rakyat biasa, yaitu Rumah Bola.

Perbedaan yang paling mencolok dari kedua rumah tersebut terlihat pada luas seta besaran tiang penyangga yang digunakan.

– Bentuk Rumah Adat Bugis

Rumah adat yang dimiliki oleh suku tersebut dibagi menjadi 3 bagian. Pertama, Awa bola yang merupakan kolong (bagian bawah). Bagian rumah tersebut digunakan untuk menyimpan berbagai macam alat, seperti alat untuk berburu, alat pertanian dan sebagainya.

Sedangkan untuk badan rumahnya terdiri atas ruang tidur, ruang tamu, tempat untuk menyimpan benih dan masih banyak yang lainnya. Bagian belakangnya sendiri digunakan sebagai dapur atau juga bisa digunakan sebagai tempat tidur lansia maupun anak gadis.

Jika Anda melihat sekilas desain dari rumah arsitektur tersebut, maka Anda akan melihat bahwa rumah adat Suku Bugis mendapatkan pengaruh dari agama Islam. Hal tersebut terbukti banyak rumah yang sengaja dibangun menghadap ke arah kiblat. Tak hanya itu, ditemukan pula beberapa lukisan dengan nuansa yang islami.

2. Pakaian Adat Suku Bugis

Pakaian Adat Suku Bugis

Pembahasan selanjutnya ialah mengenai pakaian adat yang dimiliki. Masyarakat dari suku yang satu ini memiliki baju adat yang disebut dengan baju bodo (pendek). Pada awalnya, pakaian tersebut dibuat dengan menggunakan lengan pendek tanpa menggunakan dalaman.

Namun, selaras dengan perkembangan zaman, baju adat tersebut kemudian dibuat dengan menutupi aurat, karena ada pengaruh islam. Untuk dalaman dari baju adat itu sendiri memiliki warna yang senada dengan baju bogo sendiri namun lebih terang.

Nah, untuk bawahannya sendiri menggunakan sarung sutera dengan warna yang sama.

3. Tradisi Pesta Panen (Mappadendang)

Mappadendang

Nah, untuk salah satu adat istiadat yang dimiliki oleh Suku Bugis ini adalah mengadakan upacara adat Mappadendang (pesta panen bagi adat Suku Bugis). Upacara itu sendiri diselenggarakan sebagai bentuk rasa syukur atas keberhasilan dalam menanam padi.

Selain itu, upacara adat yang satu ini juga mengandung nilai magis di dalamnya. Masyarakat Suku Bugis sendiri sering menyebut upacara ini dengan nama pensucian gabah. Artinya yaitu membersihkan serta mensucikan padi dari batang dan daunnya yang setelah itu langsung dijemur di bawah terik matahari.

Proses upacara tersebut dilakukan dengan cara menumbukkan alu ke dalam lesung dengan saling bergantian. Adat Mappadendang sendiri dilakukan oleh 3 orang laki-laki dan 6 orang perempuan dengan menggunakan baju bodo. Nah, pria yang beraksi di dalam Birig Baruga disebut dengan Pakkambona, sedangkan perempuan yang beraksi perempuan disebut dengan Pakkindona.

Para pria tersebut nantinya akan menari serta menabur bagian ujung lesung. Untuk bilik baruga yang dipakai terbuat dari bambu. Sementara itu, untuk pagarnya dibuat dari anyaman bambu yang dinamakan dengan Walasoji.

4. Adat Perkawinan Suku Bugis

Adat Perkawinan Suku Bugis

Di dalam Suku Bugis, terdapat beberapa pembagian perkawinan. Di bawah ini pembagian perkawinan yang ideal menurut Suku Bugis.

– Assialang Marola

Bentuk pernikahan ideal yang pertama adalah Assialang Marola. Di dalam bahasa Makassar sendiri, pernikahan tersebut juga disebut dengan Passialeng Baji’na. Adat pernikahan yang satu ini dilakukan antara saudara sepupu sederajat kesatu baik itu dari pihak ayah ataupun ibu.

– Assialana Memang

Selanjutnya ada Assialana Memang, atau yang biasa dikatakan oleh Suku Bugi dengan sebutan Passialleana. Pernikahan yang satu ini melibatkan saudara sepupu, akan tetapi pada sederajat kedua baik itu dari pihak ayah ataupun dari pihak ibu.

– Ripanddepe’ Mabelae

Nah, yang terakhir ada Ripanddepe’ Mabelae. Masyarakat Bugis sendiri biasa menyebut adat pernikahan ini dengan nama Nipakambani Bellaya. Adat tersebut biasanya dilakukan antara saudara sepupu sederajat ketiga baik itu dari pihak ayah ataupun dari pihak ibu.

Adat pernikahan Ripanddepe’ Mabelae ternyata mempunyai makna untuk bisa merekatkan atau menyatukan kembali kekerabatan yang sudah agak jauh.

5. Adat Sebelum Pernikahan

pernikahan suku bugis

Di dalam adat sebuah adat pernikahan Suku Bugis ini, ternyata ada kegiatan yang biasa dilakukan sebelum pernikahan. Beberapa kegiatan yang biasa dilakukan tersebut diantaranya adalah:

– Mappuce-puce

Mappuce-puce atau peminangan adalah sebuah kegiatan yang dilakukan oleh pihak laki-laki dengan berkunjung ke rumah pihak perempuan. Hal tersebut bertujuan agar calon mempelai laki-laki mengenal lebih jauh calon mempelai perempuan dan juga keluarganya.

– Massuro

Pihak laki-laki akan datang ke rumah pihak perempuan untuk membicarakan lebih lanjut tentang waktu diselenggarakannya pernikahan. Tak hanya itu, pihak laki-laki juga akan memberikan uang panaik.

Ada satu yang unik dari adat ini, dimana perempuan yang memiliki pendidikan lebih tinggi akan mendapatkan jumlah uang panaik dengan jumlah yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan perempuan yang berpendidikan rendah. Begitu pula dengan gelar bangsawan yang melekat pada diri perempuan tersebut.

Nah, untuk uang panaik ini ternyata berbeda dengan mahar.

– Maduppa

Maduppa atau menyebar undangan pernikahan kepada para tamu yang akan diundang. Adat yang satu ini menunjukkan siapa saja yang datang pada pesta pernikahan kedua mempelai tersebut. Kepala adat yang hadir pun mendapatkan kedudukan yang istimewa sebagai tamu undangan pernikahan.

Kesenian Suku Bugis

Setiap suku yang ada di Indonesia pastinya memiliki kesenian sendiri-sendiri. Seperti kesenian yang dimiliki oleh Suku Bugis satu ini. Suku Bugis sendiri memiliki dua buah kesenian yakni seni musik dan seni tari. Nah, untuk penjelasan lebih lengkapnya Anda bisa memperhatikan penjelasan berikut ini:

1. Alat Musik Suku Bugis

Alat musik yang dimiliki oleh Suku Bugis biasanya digunakan sebagai pengiring untuk tarian. Beberapa alat musik yang dimiliki oleh suku ini ialah sebagai berikut:

– Seruling

seruling suku bugis

Suling yang dimiliki oleh suku tersebut terdiri atas 3 jenis. Yakni, suling panjang (suling lampe), suling calabai (suling ponco), serta suling dupa samping. Ketiga suling tersebut biasanya dibunyikan sebagai ucapan selamat datang kepada para tamu.

– Gendang

gendang

Alat musik gendang yang dimiliki oleh Suku Bugis ternyata memiliki bentuk yang mirip dengan alat musik rebana. Bentuk dari alat musik gendang tersebut bulat panjang serta bundar. Suara yang dihasilkan pun memiliki irama yang bagus.

– Kecapi

Kecapi

Kecapi adalah sebuah alat musik yang dimainkan dengan cara dipetik. Alat musik yang berfungsi agar bisa memvariasikan gabungan suara alat musik lainnya ini biasanya digunakan pada acara perkawinan, hajatan dan lain sebagainya.

– Gandrang Bulo

 

Alat musik berikutnya ada Gandrang Bulo. Nama dari alat musik tersebut memiliki arti gendang dari bambu.

2. Tarian Suku Bugis

Tarian Tradisional Suku Bugis

Suku Bugis juga memiliki beberapa tarian yang indah dan mempesona. Tari-tarian tersebut juga memiliki beberapa nama seperti yang akan dibahas berikut ini:

– Tari Kipas

Sama seperti namanya, para penari menggunakan kipas sembari diiringi dengan menggunakan lagu. Nah, satu yang unik dari tari kipas ini sendiri ialah, meski gerakan yang dilakukan para penari tampak lemah lembut, akan tetapi tempo yang dimainkan malah cepat.

Hal inilah yang membuat penari harus bisa mengikuti irama yang cepat namun tetap dengan gerakan yang lemah lembut.

– Tari Mabissu

Tari Mabissu adalah sebuah tari yang mempertunjukkan kesaktian para bissu dari Sigeri Sulawesi Selatan. Jenis tari tersebut mempertontonkan kekebalan yang dimiliki oleh para bissu terhadap senjata debus. Hal inilah membuat Tari Mabissu tampak mistis namun tetap terlihat estetis.

– Tari Pa’gellu

Tari selanjutnya ialah Tari Pa’gellu. Biasanya, tari yang satu ini akan ditarikan untuk menyambut seseorang yang baru saja pulang dari berperang. Tarian heroic tersebut mengandung peribahasa “jangan sampai kacang lupa kulitnya”. Pesan yang disampaikan adalah, sudah seharusnya kita mengingat jasa-jasa yang dilakukan oleh para pahlawan.

– Tari Ma’badong

Tari Ma’badong biasanya ditarikan pada saat upacara kematian. Tarian yang satu ini ditarikan dengan gerakan yang silih berganti dengan jari kelingking yang saling dikaitkan dengan membentuk lingkaran.

Tarian tersebut diiringi dengan menggunakan lagu yang menggambarkan kehidupan manusia dari mulai lahir hingga mati.

Biasanya, penari akan menggunakan pakaian serba hitam. Namun, tak jarang juga para penari yang menggunakan pakaian bebas.

– Tari Pakarena

Suku Bugis sendiri memiliki beberapa jenis tari yang membuatnya kaya akan budaya. Selain beberapa tari di atas, Tari Pakarena juga menjadi salah satu tari yang hingga saat ini tetap dilestarikan. Tarian tersebut pada awalnya hanya dipertunjukkan di istana kerajaan saja.

Namun, karena zaman yang semakin berkembang membuatnya semakin dikenal. Tarian tersebut mencerminkan sikap lemah lembut serta sopan santun yang dimiliki oleh seorang wanita.

– Tari Paduppa Bosara

Berikutnya ada Tari Paduppa Bosara yang memiliki makna tari penyambutan kepada para tamu yang datang berkunjung. Tari tersebut merupakan bentuk penghargaan serta terima kasih untuk para tamu atas kedatangannya.

Demikian berbagai macam kebudayaan yang dimiliki oleh Suku Bugis yang sampai saat ini masih dilakukan secara turun temurun. Bahkan, beragam kebudayaan tersebut masih memiliki unsur magis di dalamnya.

Hal inilah yang membuat Suku Bugis kaya akan budaya yang bertujuan untuk tetap menjaga nilai persatuan.

Baca Juga:

2 comments
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
pidato persuasif

Kumpulan Contoh Pidato Persuasif

Contoh pidato persuasif merupakan salah satu dari jenis pidato yang ada di kehidupan sehari-hari. Pidato sendiri merupakan kegiatan berbicara di depan khalayak ramai. Pidato biasanya disampaikandalam event tertentu. Sebagai salah…
View Post
Pidato Bahasa Jawa

Kumpulan Contoh Pidato Bahasa Jawa

Contoh Pidato bahasa jawa disebut juga dengan sesorah. Dalam bahasa Indonesia berarti menyampaikan suatu gagasan atau ide yang disampaikan di depan banyak orang untuk tujuan tertentu. Sama halnya dengan pidato…
View Post