sistem tata surya

Susunan Sistem Tata Surya dan Teori Pembentukannya

Total
0
Shares

Bumi merupakan salah satu anggota dari sistem tata surya. Bumi juga merupakan tempat tinggal manusia. Tentu saja, tanpa adanya sistem tata surya ini, kehidupan yang ada di bumi tidak bisa berjalan dengan baik.

Nah, apa yang dimaksud dengan sistem tata surya? Pengertian tata surya adalah berisi tentang berbagai macam benda yang ada di langit seperti matahari, planet, asteroid, bintang dan masih banyak yang lainnya.

Sistem yang satu ini akan terbentuk menjadi sebuah sistem yang teratur dimana semua objek yang terdapat di langit akan terikat dengan gaya gravitasi.

Teori Pembentukan Tata Surya

Teori Pembentukan Tata Surya

Lalu, bagaimana proses terjadinya proses sistem tata surya? Selain teori ini, ada juga Teori Big Bang yang juga menjelaskan terciptanya alam semesta. Berikut ini ada beberapa penjelasan dari pembentukan sistem tata surya yang dijelaskan oleh beberapa ahli.

– Teori Nebula (Teori Kabut)

Teori ini dijelaskan oleh Iammanuel Kant (1749-1827) dan Piere Simon de Laplace (1796). Menurut penjelasan yang dikemukakan oleh kedua ahli tersebut, tata surya ini terbentuk dari matahari serta planet yang berbentuk kabut dan berpijar.

Kabut tersebut memiliki bentuk seperti bola dengan ukuran yang besar. Apabila ukuran bola tersebut semakin kecil, maka putarannya akan semakin cepat.

Hal ini mengakibatkan bentuk bola mendekat di bagian kutub kemudian melebar pada bagian equator sehingga membuat bagian masa dari kabut gas tersebut menjadi semakin jauh dari gumpalan inti.

Nebula

Alhasil, akan membentuk gelang-gelang di sekeliling bagian utama kabut yang mana, gelang-gelang tersebut nantinya akan berubah menjadi planet-planet serta satelit.

Nah, sementara itu kabut yang ada di bagian tengah dan masih berpijar, kabut inilah yang nantinya akan menjadi matahari. Itulah pengertian terjadinya tata surya menurut Teori Nebula.

– Teori Planetesimal

Teori ini disampaikan oleh Ahli Geologi Thomas C. Chamberlin (1843-1928) dan Astronom Forest R. Moulton (1872-1952). Proses terjadinya tata surya ini didasarkan oleh sebuah penelitian yang dilakukan oleh para ahli.

Yaitu, tata surya terbentuk karena terdapat beberapa benda langit dengan jarak yang cukup dekat lewat di sekitar matahari pada awal pembentukan matahari.

Hal inilah yang mengakibatkan munculnya tonjolan di permukaan matahari. Nah, dengan bantuan bintang yang terdapat di sekitar matahari hal tersebut menimbulkan sebuah efek gravitasi yang memunculkan dua lengan spiral dengan ukuran yang memanjang pada bagian matahari.

Planetesimal

Lalu, sebagian besar dari materi tersebut akan ditarik kembali serta sebagian benda langit yang lainnya akan tetap orbit. Benda-benda tersebut kemudian akan berubah menjadi dingin dan lebih padat sehingga membuat benda tersebut memiliki ukuran yang lebih kecil.

Benda-benda inilah yang dikenal dengan planetisimal sedangkan untuk beberapa benda langit lainnya yang memiliki ukuran lebih besar disebut dengan protoplanet.

Kemudian, berbagai macam benda langit tersebut akan saling bertabrakan dari waktu ke waktu sehingga akan membentuk planet dan bulan. Sementara itu, sisa ari materi yang lainnya akan membentuk asteroid dan komet.

– Teori Awan Debu

Teori ini dijelaskan oleh Carl von Weizsaeker (1940) serta Gerard P Kuiper (1950). Proses terbentuknya tata surya berikutnya dijelaskan melalui sebuah teori yang disebut dengan Teori Awan Debu.

Teori yang satu ini memberikan penjelasan bahwa tata surya berasal dari gumpalan gas serta debu yang mana gumpalan tersebut akan mengalami penyumbatan. Pada saat terjadi proses penyumbatan, berbagai macam partikel debu akan tertarik ke dalam bagian pusat awan.

Teori Awan Debu

Setelah itu, akan mulai terikat kemudian membentuk sebuah cakram yang tebal pada bagian tengahnya serta bagian tepi yang lebih tipis.

Berbagai macam partikel yang terdapat di bagian tengah cakram kemudian akan saling menekan satu sama lain. Hal inilah yang membuat suhu menjadi meningkat dan menimbulkan panas serta pijar.

Nah, pada bagian luarnya akan berputar semakin cepat sehingga akan saling terpecah satu sama lain dan membentuk gumpalan-gumpalan yang lebih kecil.

Gumpalan-gumpalan kecil tersebut kemudian akan terikat dan kemudian menjadi padat. Hal ini yang nantinya akan berubah menjadi planet-planet.

Itulah 3 teori yang menjelaskan tentang proses terbentuknya sistem tata surya.

Susunan Tata Surya

Sistem susunan tata surya

Nah, setelah membahas teori yang menjelaskan pembentukan sistem tata surya, berikut ini akan dijelaskan mengenai berbagai macam susunan tata surya dan urutannya. Ada apa sajakah itu? Adapun penjelasannya seperti berikut.

1. Matahari

Matahari adalah komponen utama yang ada dalam sistem tata surya dan merupakan anggota yang sangat penting. Ukuran dari matahari ini adalah 332.830 dari massa bumi.

Dengan ukuran yang sangat besar tersebut, membuat kepadatan inti dari matahari menjadi semakin besar.

Matahari

Hal tersebut bertujuan untuk mendukung kesinambungan dari fusi nuklir serta memunculkan beberapa energi yang lebih dahsyat.

Lalu, energi tersebut akan dipancarkan ke luar angkasa. Energi tersebut berupa radiasi elektromagnetik dan spectrum magnetic.

Matahari ini juga memiliki beberapa lapisan seperti berikut ini:

  1. Korona, bagian terluar dari matahari
  2. Kromosfer, lapisan kromosfer matahari
  3. Fotosfer, lapisan yang masih mempunyai energi panas yang dahsyat
  4. Bagian inti, merupakan lapisan yang paling dalam.

2. Berbagai Macam Planet

Selain matahari, ada juga berbagai macam planet di dalam sistem tata surya seperti bumi yang menjadi tempat tinggal manusia. Berikut ini adalah beberapa planet yang ada di dalam tata surya.

– Merkurius

Planet yang satu ini merupakan paling dekat dengan matahari. Jarak dari matahari ke Planet Merkurius adalah 58 juta kilometer. Nah, planet yang satu ini hanya bisa dilihat dari bumi pada waktu tertentu saja, yakni pada waktu fajar dan waktu senja.

Diantara planet yang lainnya, planet yang satu ini merupakan planet terkecil dengan ukuran 4.862 km. Sementara itu, pada bagian permukaannya, planet tersebut memiliki suhu 427 derajat celcius pada siang hari dan 184 derajat celcius pada malam hari.

Hal inilah yang membuat permukaan Merkurius memberikan energi yang lebih panas serta kering.

Butuh waktu 88 hari bagi Merkurius untuk bisa mengelilingi matahari. Sedangkan untuk periode rotasi yang dimiliki oleh planet tersebut ialah 59 hari. Planet Merkurius tidak mempunyai satelit.

– Venus

Venus merupakan planet yang memiliki jarak 108 juta kilometer dari matahari. Salah satu ciri yang dimiliki oleh Planet Venus ini ialah pada bagian permukaannya dikelilingi oleh awan tebal karbondioksida.

Hal tersebut yang menjadikan planet Venus menjadi sulit untuk dilihat. Venus akan mengelilingi matahari selama 225 hari dalam satu kali putaran. Tak hanya itu, rotasi yang dimiliki oleh planet satu ini adalah 243 hari.

– Bumi

Bumi merupakan satu-satunya planet yang layak untuk digunakan sebagai tempat tinggal makhluk hidup, inilah teori yang belum terbantahkan hingga kini.

Salah satu alasan kenapa bumi sangat cocok sebagai tempat tinggal manusia ialah karena kemampuannya yang bisa mendaur ulang dirinya sendiri sehingga memungkinkan tersedianya air yang bisa dibentuk menjadi cair, padat ataupun gas.

– Mars

Ukuran dari Planet Mars sendiri ternyata lebih kecil dari bumi. Mars akan memutari matahari selama 687 hari dan dengan periode 24,6 jam.

Nah, planet yang satu ini merupakan planet yang banyak diteliti oleh para ahli. Dimana, mereka tidak mengirimkan astronot untuk bisa sampai ke Mars akan tetapi dengan menggunakan robot.

Para peneliti masih terus melakukan penelitian apakah planet tersebut bisa dijadikan sebagai tempat tinggal seperti halnya bumi.

– Jupiter

Jika dibandingkan dengan planet yang lainnya, Jupiter merupakan planet terbesar. Planet yang satu ini memiliki permukaan seluas 142.860 km dengan volume planet kurang lebih 1.300 kali.

Masa rotasi yang dimiliki oleh Jupiter ini adalah 2,5 kali lebih cepat yakni selama 9,8 jam. sedangkan, untuk masa revolusi yang dimilikinya yaitu 12 tahun. Jupiter memiliki 16 satelit yaitu Calisto, Ganymeda, eropa, Io dan masih banyak yang lainnya.

– Saturnus

Planet berikutnya setelah Jupiter adalah Saturnus. Ciri yang paling menonjol dari planet tersebut ialah adanya cincin yang melingkar di sekitarnya. Nah, cincin yang dimiliki oleh Planet Saturnus tersebut ternyata terdiri atas gas beku serta butiran-butiran debu.

Para peneliti menyimpulkan bahwa butiran-butiran debu tersebut adalah peninggalan dari satelit yang terdahulu yang sudah hancur dikarenakan benturan dengan planet lainnya. Planet yang satu ini memiliki 21 satelit, yang mana satu di antaranya adalah Titan.

– Uranus

Uranus bisa dikatakan sebagai planet yang unik. Hal ini karena kutub yang dimiliki malah menghadap ke arah matahari serta berotasi dengan sumbu yang sebidang dengan bidang edarnya.

Waktu rotasi yang dimiliki oleh Planet Uranus adalah 11 jam dengan waktu revolusi selama 84 tahun. Planet yang satu ini mempunyai 5 buah satelit seperti Miranda, Umbriel, Ariel serta Oberon.

– Neptunus

Neptunus merupakan planet ke delapan yang ada dalam sistem tata surya. Planet yang satu ini mempunyai angin dan badai, hal tersebutlah yang membuat Neptunus dijuluki sebagai planet yang paling berangin.

Waktu revolusi yang dimiliki oleh planet tersebut adalah 165 tahun dengan waktu rotasi 16 jam. Planet Neptunus ternyata mempunyai kesamaan dengan Planet Uranus.

Dimana pada bagian atmosfernya terdiri atas hidrogen dan helium. Di dalamnya juga terdiri atas gas metana dengan komposisi yang sama seperti Planet Uranus.

3. Benda-benda Langit

Selain terdiri atas matahari dan juga berbagai macam planet, sistem tata surya juga terdiri atas berbagai macam benda langit lainnya seperti di bawah ini:

– Komet

Komet merupakan benda langit yang hampir sama dengan asteroid. Dengan langit yang satu ini memiliki bentuk yang kecil serta padat. Tak hanya itu, hampir semua isi dari komet terdiri dari gas dan debu yang sudah membeku.

– Satelit

Satelit ialah sebuah benda yang berada di ruang angkasa serta mengelilingi benda lainnya. Satelit ini akan tetap berada pada gaya tarik benda lain yang mempunyai ukuran lebih besar.

– Asteroid

Asteroid merupakan benda langit dengan ukuran yang lebih kecil serta pada. Asteroid ini juga merupakan bagian dari sistem tata surya.

– Meteor

Meteor ialah serpihan-serpihan benda padat yang beterbangan di ruang angkasa. Bentuk dari meteor ini tidak beraturan karena berasal dari serpihan asteroid, ekor komet ataupun pecahan dari berbagai macam benda langit yang lainnya.

Nah, itulah pembahasan mengenai proses terjadinya sistem tata surya serta anggota dari sistem tata surya itu sendiri. Dengan mempelajari sistem tata surya tersebut semoga bisa menambah pengetahuan dan rasa syukur terhadap Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

BACA: Susunan Lapisan Atmosfer Bumi dan Fungsinya

1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Metamorfosis Kupu-kupu

Proses Metamorfosis Kupu-kupu

Metamorfosis Kupu-kupu – Hal apa yang ada di benak Anda ketika melihat kupu-kupu terbang di sekitar Anda? Tentunya Anda akan mengatakan wahhh cantiknya, atau wahhh bagus sekali, atau wah indah…
View Post