Sejarah Pancasila

Sejarah Hari Lahir Pancasila

Total
0
Shares

Sejarah Pancasila – Pancasila adalah dasar negara yang telah ditetapkan oleh para pendiri bangsa. Sebagai dasar negara, Pancasila menjadi pandangan hidup dalam kaitan kehidupan berbangsa dan bernegara bagi bangsa Indonesia. Dengan demikian, maka asas-asas dan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi wajib untuk diamalkan oleh setiap warga negara yang mendiami Indonesia.

Penerapan nilai-nilai tersebut menjadi salah satu bentuk pengejawantahan butir-butir Pancasila. Namun, sebelum membahas lebih lanjut terkait bagaimana penerapan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, memahami sejarah Pancasila merupakan salah satu bagian yang sangat penting demi menghargai dan menjunjung nilai dasar negara tersebut.

Ya, pemahaman terkait sejarah Pancasila, terutama perumusannya, akan menjadikan masyarakat mengetahui perjuangan para pendiri bangsa merumuskan dasar negara yang abadi hingga saat ini. Dengan demikian, maka akan timbul semangat dan patriotisme dalam dada untuk menjaga Pancasila sebagai dasar negara dari rongrong konsep ideologi lainnya.

Sejarah Pancasila

sejarah pancasila

Membahas tentang sejarah Pancasila tidak bisa dilepaskan dengan ditemukannya dokumen kuno mengenai hal ini. Dalam banyak hal sering dijelaskan bahwa menurut dokumen lawas, awal mula pembahasan sejarah dari Pancasila adalah Kitab Sutasoma. Kitab lawas tersebut mencantumkan Pancasila sebagai salah satu ajaran luhur untuk pandangan hidup.

Uniknya, pandangan hidup ala Pancasila dalam kitab kuno tersebut juga memiliki lima poin yang berbeda. Namun, tentu poin yang tercantum dalam kitab tersebut berbeda dengan detail poin Pancasila sebagaimana dipahami saat ini.

Kelima poin yang menjadi dasar dari sejarah Pancasila yang bersumber dari kitab Sutasoma tersebut adalah larangan untuk melakukan kekerasan, larangan untuk mencuri, larangan untuk mendengki, larangan untuk berbohong dan larangan untuk meminum minuman keras. Ajaran tersebut bisa dipahami sebagai upaya untuk membangun masyarakat yang makmur.

Selain kelima poin tersebut, kaitannya dengan sejarah Pancasila, dalam kitab Sutasoma juga tercantum kalimat yang menjadi inspirasi dari persatuan dan kesatuan segenap bangsa Indonesia. Kalimat tersebut adalah “Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Magrwa”. Kalimat tersebut bermaksud menjadikan perbedaan sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia.

Semakin berkembangnya zaman, istilah Pancasila mulai muncul dalam pidato beberapa tokoh besar di Indonesia yang berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Tokoh-tokoh awal yang mencantumkan Pancasila dalam pidato mereka adalah Soekarno dan juga Haji Oemar Said Cokroaminoto.

Namun, dari Soekarno-lah istilah Pancasila secara lantang disiarkan di mimbar-mimbar pidato hingga dikenal hingga saat ini. Meskipun demikian, belum ditemukan literature yang membahas tentang sejarah Pancasila dan menyatakan bahwa istilah ini ditemukan oleh Soekarno.

Pancasila Sebagai Dasar Negara

pancasila sebagai dasar negara

Beberapa poin di atas secara singkat membahas tentang sejarah Pancasila di mana ternyata sudah menjadi bahan perbincangan sejak beberapa generasi yang lalu. Selain itu, sebagaimana disinggung di awal bahwa Pancasila dijadikan dasar negara dan dasar pandangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dijadikannya Pancasila sebagai dasar negara bukanlah merupakan keputusan yang diambil dengan mudah dan cepat. Ada proses-proses yang dilakukan hingga merumuskan Pancasila menjadi dasar negara di mana disetujui secara nasional.

Perumusan Pancasila sebagai dasar negara melalui beberapa kali sidang yang alot dan penyimpulan dari beberapa gagasan yang diutarakan oleh para pemimpin dan pendiri bangsa Indonesia. Dalam pembahasan terkait sejarah Pancasila, setidaknya ada beberapa tahapan rumusan yang perlu diketahui secara menyeluruh.

Persiapan Hari Lahir Pancasila

1 Juni adalah Hari Lahir Pancasila, lebih dari setengah abad yang lalu. Tepatnya dalam sidang BPUPKI yang beranggotakan beberapa tokoh sentral Indonesia.

Pembahasan mengenai sejarah Pancasila sebagai dasar negara dimulai dari pembentukan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau disingkat menjadi BPUPKI. BPUPKI inilah yang bertugas untuk mempersiapkan langkah awal yang harus dilakukan oleh bangsa Indonesia dalam upayanya menyambut kemerdekaan.

BPUPKI mengadakan beberapa kali sidang di mana tujuannya adalah untuk menentukan dasar negara guna mengatur perjalanan negara jauh ke depan. Dalam sidang yang dilangsungkan tersebut terdapat beberapa pidato dari para pendiri bangsa terkait Pancasila.

Beberapa tokoh sentral yang berpidato dan menyinggung Pancasila sebagai dasar negara dalam sidang BPUPKI yang dilakukan sekitar 29 Mei hingga 1 Juni 1945 adalah sebagai berikut:

Mohammad Yamin

Nama Mohammad Yamin tidak bisa dilepaskan dalam sejarah pembahasan Pancasila sebagai dasar negara. Ia merupakan salah satu tokoh paling awal yang merumuskan Pancasila sebagai dasar negara. Dalam sidang BPUPKI yang dilangsungkan, pada tanggal 29 Mei 1945, Mohammad Yamin menyampaikan pidato yang sangat penting.

Pidato tak tertulis tersebut mengusulkan beberapa poin terkait dasar negara Indonesia. Beberapa dasar negara yang diusulkan diantaranya adalah peri kebangsaan, peri kemanusiaan, peri ketuhanan, peri kerakyatan dan kesejahteraan rakyat.

Setelah itu, beliau juga mengusulkan rumusan lengkap 5 dasar yang menjadi gagasan tertulis di mana tercantum dalam naskah rancangan UUD, yaitu:

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Kebangsaan Persatuan Indonesia
  3. Rasa Kemanusian yang Adil dan Beradab
  4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
  5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Soepomo

Soepomo juga termasuk tokoh awal yang juga berpartisipasi dalam sidang BPUPKI yang membahas tentang dasar negara. Dalam pidato yang disampaikan pada tanggal 31 Mei 1945, Soepomo memberikan pandangan terkait poin-poin dasar negara sebagai berikut:

  1. Paham Persatuan
  2. Perhubungan Negara dan Agama
  3. Sistem Badan Permusyawaratan
  4. Sosialisasi Negara
  5. Hubungan antar Bangsa yang bersifat Asia Timur Raya.

Soekarno

Dalam sidang BPUPKI yang pertama, Soekarno juga turut menyumbangkan ide terkait perumusan dasar negara. Dalam pidato yang diucapkan pada 1 Juni 1945, beliau mengusulkan dasar negara dalam 5 poin yang berbeda. Poin-poin yang dinamakan Pancasila dalam kesatuannya tersebut adalah:

  1. Kebangsaan Indonesia
  2. Internasionalisme atau Perikemanusiaan
  3. Mufakat atau Demokrasi
  4. Kesejahteraan Sosial
  5. Ketuhanan yang Berkebudayaan.

Penetapan Isi Butir Pancasila

Hasil-hasil dan rumusan dari beberapa tokoh dalam sidang BPUPKI tersebut ditampung dan tidak langsung ditetapkan. Usulan tersebut kemudian dibahas lagi dalam pertemuan dan kepanitiaan yang lebih kecil. Panitia yang secara khusus dibentuk oleh BPUPKI guna merumuskan dasar negara tersebut disebut dengan panitia sembilan.

– Panitia Sembilan

Panitia Sembilan adalah panitia yang secara khusus dibentuk oleh BPUPKI untuk merumuskan dasar negara Indonesia. Panitia yang beranggotakan sembilan orang ini memiliki peran yang sangat besar dalam sejarah Pancasila hingga bisa dinikmati sekarang ini.

Setelah bersidang pada 22 Juni 1945, Panitia Sembilan berhasil merumuskan naskah rancangan pembukaan UUD yang kemudian dikenal dengan nama Piagam Jakarta. Adapun poin-poin dasar negara yang tercantum dalam piagam tersebut adalah:

  1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanan dalam permusaywaratan/perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Rapat yang dilakukan oleh Panitia Sembilan ini menjadi salah satu rapat yang sangat dikenang, terutama terkait rumusan Piagam Jakarta. Piagam Jakarta tersebut nantinya dijadikan salah satu dasar adanya dua versi Pancasila. Rapat ini juga merupakan usaha untuk menerapkan hukum Islam sebagai salah satu hukum yang berlaku dalam negara.

– Sidang BPUPKI II

BPUPKI mengadakan sidang kedua setelah membahas hasil kerja dari Panitia Sembilan. Dalam sidang kedua yang diadakan oleh BPUPKI tersebut terkait sejarah Pancasila, ada beberapa poin yang dihasilkan, yaitu:

  • Kesepakatan dasar negara yaitu Pancasila dengan rumusan sebagaimana yang tertuang dalam Piagam Jakarta
  • Kesepakatan terkait bentuk negara Indonesia yang merupakan negara republik. Keputusan ini diambil dengan mengambil 55 suara dari 64 total suara yang hadir dalam rapat
  • Kesepakatan mengenai luas wilayah Indonesia yang meliputi Hindia Belanda, Timor Timur dan sampai ke Malaka. Kesepakatan ini diambil dari total 39 suara
  • Kesepakatan mengenai pembentukan panitia kecil sebagai panitia perancang UUD, panitia ekonomi dan keuangan serta panitia pembela tanah air.

Dari sidang yang dilakukan sejak 10 hingga 16 Juli 1945 tersebut, poin yang dihasilkan menjadi salah satu fondasi utama dalam usaha merumuskan dasar negara Indonesia. Akhirnya, setelah sidang tersebut, secara resmi Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Peristiwa ini juga menjadi akhir dari BPUPKI. Dalam hal ini, sehari setelah pelaksanaan kemerdekaan tersebut, BPUPKI secara resmi dibubarkan dan digantikan oleh PPKI. PPKI sendiri bertujuan untuk menyempurnakan rumusan Pancasila sebagai dasar negara dimana tercantum pula dalam pembukaan UUD 1945.

– Sidang PPKI

Pembahasan terkait sejarah Pancasila juga tidak bisa dilepaskan dari peran aktif dari PPKI. Badan ini setelah dibentuk langsung mengadakan rapat pertama pada 18 Agustus 1945. Rapat ini secara khusus membahas Pancasila sebagai dasar negara yang perumusannya disempurnakan.

Dalam rapat yang diselenggarakan oleh PPKI tersebut terdapat perubahan terkait rumusan Pancasila yang bersumber dari Piagam Jakarta. Perubahan tersebut merupakan usulan dari Muhammad Hatta.

Beliau mengusulkan perubahan sila pertama pada Piagam Jakarta yang berbunyi,” Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” kemudian menjadi teks yang lebih singkat, yakni “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Alasan perubahan ini adalah untuk merangkul para pendiri yang tidak beragama Islam.

Degan perubahan tersebut, maka isi butir Pancasila yang disetujui menjadi:

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Perubahan sila pertama tersebut menjadi salah satu hal yang sangat penting pada saat itu, bahkan hingga saat ini. Mengingat masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai latar belakang suku, budaya, dan agama. Maka dengan adanya perubahan itu dapat menyatukan seluruh elemen rakyat Indonesia.

Hal ini cukup beralasan karena meskipun hanya satu larik saja yang diubah, namun dampaknya sangat terasa dalam penentuan hukum terapan di Indonesia. Meskipun Soekarno mengatakan bahwa umat Islam bisa memperjuangkan sila pertama tersebut dalam sidang konstituante.

Demikian beberapa ulasan terkait sejarah Pancasila termasuk perumusannya. Pancasila sebagai dasar negara tidak dirumuskan secara asal-asalan namun melalui perdebatan yang panjang. Oleh karena itu, sebagai pelaksana kemerdekaan, kita sebagai warga negara wajib menjunjung tinggi Pancasila dan mengimplementasikannya dalam pola kehidupan harian.

Semoga ulasan mengenai sejarah Pancasila tadi bisa menambahkan rasa sadar dan cinta akan Bangsa Indonesia.

2 comments
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
pidato persuasif

Kumpulan Contoh Pidato Persuasif

Contoh pidato persuasif merupakan salah satu dari jenis pidato yang ada di kehidupan sehari-hari. Pidato sendiri merupakan kegiatan berbicara di depan khalayak ramai. Pidato biasanya disampaikandalam event tertentu. Sebagai salah…
View Post