Metamorfosis nyamuk

Proses Metamorfosis Nyamuk Hingga Sempurna

Total
0
Shares

Metamorfosis Nyamuk – Siapa sangka jika makhluk kecil yang sering dianggap sebagai pengganggu karena bisa membawa virus penyakit ini. Ternyata merupakan salah satu hewan dengan keistimewaan tersendiri lho. Ya, nyamuk adalah salah satu hewan yang melalui metamorfosis atau perubahan, dimana proses ini tidak dialami oleh semua jenis hewan.

Proses metamorfosis nyamuk sendiri terbagi menjadi 4 fase, yaitu fase telur, larva, pupa hingga menjadi nyamuk dewasa. Menariknya di dunia ini ada kurang lebih 2.700 spesies nyamuk yang tersebar di seluruh penjuru negara, dan masing-masing spesies menunjukkan siklus hidup atau metamorfosis yang sedikit berbeda.

Proses Metamorfosis Nyamuk

Metamorfosis nyamuk

Bagaimanakah perjalanan hidup nyamuk mulai dari masih berwujud telur sampai menjadi nyamuk dewasa yang cukup membahayakan bagi manusia? Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Fase Telur

telur nyamuk

Tahukah Anda jika tidak semua nyamuk memerlukan darah untuk bertahan hidup atau sebagai sumber makanan mereka? Benar sekali, hanya nyamuk betinalah yang membutuhkan darah sebagai sumber protein yang digunakan ketika masa produksi telur. Jadi, ketika nyamuk menghisap darah, kemudian mereka akan mencari tempat untuk meletakkan telurnya.

Biasanya nyamuk membutuhkan tempat yang tenang untuk meletakkan telurnya, dan biasanya berada di area perairan. Ciri genangan air yang banyak disukai nyamuk untuk tempat perkembang biakan ialah genangan yang cenderung jernih dan memiliki arus yang sangat kecil atau bahkan tidak berarus.

– Jumlah Produksi Telur Nyamuk

Dalam sekali produksi, nyamuk betina akan mengeluarkan sekitar 100-300 butir telur yang memiliki ukuran super kecil yaitu sekitar 0,5 mm. Telur akan diletakkan satu persatu dan mengapung di permukaan air tersebut. Umumnya warna telur nyamuk ketika pertama kali dikeluarkan berwarna putih. Sehari kemudian warna telur akan lebih gelap hingga cenderung hitam.

– Lama Waktu Menetas

Untuk waktu menetasnya sendiri tidak bersamaan melainkan secara bergantian tergantung dengan suhu udara di area tersebut. Bahkan untuk beberapa jenis nyamuk pun membutuhkan tempat peletakan telur yang berbeda agar telurnya bisa menetas.

Sebagai contoh nyamuk culiseta, anopheles dan culex yang meletakkan telurnya di atas air. Sedangkan nyamuk aedes meletakkan telurnya di lumpur basah. Kondisi lingkungan inilah yang akhirnya mempengaruhi waktu yang dibutuhkan untuk telur nyamuk bisa menetas dan menjadi jentik atau larva.

2. Fase Jentik-Larva

jentik nyamuk

Setelah menetas, nyamuk akan masuk ke fase larva. Dimana larva yang baru menetas juga disebut dengan larva instar. Ukuran larva instar ini sangatlah kecil dan cukup sulit untuk dilihat sekalipun mereka hidup di permukaan air. Larva instar dapat bernafas dan memperoleh makanan melalui siphon mereka.

Siphon ini terletak di pangkal perutnya dan bentuknya menyerupai snorkel. Untuk jenis makanannya antara lain adalah bakteri alga, mikroorganisme dan juga bahan organic lain yang ada di air.

– Kerangka

Kerangka nyamuk yang berada di luar (exoskeleton), menjadikan bentuk nyamuk di fase ini menyerupai kepiting. Agar bisa berkembang dan menjadi nyamuk dewasa nantinya, larva kecil harus melepaskan rangka luarnya.

– Lama Waktu

Fase ini akan berlangsung kurang lebih selama 8 sampai 10 hari, namun kembali lagi tergantung dengan kondisi lingkungan sekitar. Namun dalam waktu tersebut, setidaknya ada 4 perubahan bentuk larva nyamuk.

Diketahui jika larva instar mengalami gangguan atau merasa kurang nyaman, maka mereka akan menyelam ke dalam air untuk menyelamatkan diri.

3. Fase Kepompong Pupa

fase pupa

Setelah melalui 4 tahap larva mulai dari larva instar hingga larva jentik, baru kemudian akan masuk pada fase berikutnya yaitu kepompong atau pupa. Inilah tahap ketiga sebelum nyamuk berkembang menjadi nyamuk dewasa yang siap beraktifitas di udara.

– Lama Waktu Fase Kepompong Pupa

Bisa dikatakan jika fase kepompong pada nyamuk tidak jauh berbeda dengan fase kepompong pada kupu-kupu. Dimana nyamuk akan menjadi kepompong atau pupa sekitar 1 sampai 2 hari, tergantung dengan kondisi lingkungan dan juga spesies nyamuk.

– Ciri Khas Fase Kepompong Pupa

Uniknya, jika sebagian pupa serangga sifatnya tidak aktif, namun pupa nyamuk sangatlah aktif. Mereka bisa bergerak dengan cepat di air. Meski demikian namun pada fase pupa, nyamuk tidak mengonsumsi makanan apapun.

Ciri dari pupa nyamuk sendiri cukup jelas, yaitu pada warnanya yang cenderung transparan dan bentuknya yang cukup mungil.

4. Fase Nyamuk Dewasa

nyamuk dewasa

Setelah masuk pada fase ini barulah nyamuk dianggap sebagai hewan yang mengganggu dan cukup mengancam kesehatan bahkan nyawa manusia. Fase nyamuk dewasa akan dimulai dengan terbelahnya bagian atas pupa nyamuk. Dengan perlahan nyamuk dewasa akan keluar dari kepompong atau kulit pupa tersebut.

Setelah terlepas dari kulit pupanya, nyamuk masih tetap mengapung di atas air sampai tubuh serta sayapnya mengeras. Baru setelah tu nyamuk siap terbang dan menjalani hidup barunya.

Ketika pertama kali terbang, hal yang akan dilakukan nyamuk ialah mencari nektar untuk dikonsumsi sebagai sumber energy baginya untuk beraktifitas.

– Nyamuk Jantan Bermetamorfosis Lebih Cepat

Umumnya, nyamuk jantan akan muncul terlebih dahulu dibanding nyamuk betina, sebab nyamuk betina harus meyelesaikan fase pupanya sedikit lebih lama. Hal ini memberikan kesempatan pada nyamuk jantan untuk mematangkan diri, hingga ketika nyamuk betina muncul antena berbulunya bisa mendengar kepakan sayap nyamuk betina.

Benar sekali, setiap spesies nyamuk betina umumnya memiliki suara kepakan sayap yang berbeda sehingga mudah dideteksi oleh nyamuk jantan dari spesies yang sama. Selanjutnya mereka akan melakukan perkawinan. Proses ini terjadi setelah 1 sampai 2 hari nyamuk betina keluar dari fase pupa.

Nah, setelah proses perkawinan inilah nyamuk betina akan mulai mencari makanan berupa darah sebagai sumber protein bagi telur-telurnya. Itulah tahapan hidup atau metamorfosis nyamuk mulai dari fase telur sampai dengan fase nyamuk dewasa.

– Perbedaan Nyamuk Jantan dan Betina

Lalu bagaimana dengan perbedaan antara nyamuk jantan dan betina? Berikut beberapa diantaranya:

  • Nyamuk jantan memiliki ukuran yang lebih kecil jika dibandingkan dengan ukuran nyamuk betina.
  • Nyamuk jantan tidak mengonsumsi darah sehingga tidak mengganggu bahkan membahayakan kesehatan manusia.
  • Nyamuk betina tidak menggunakan darah untuk dirinya, namun untuk sumber protein telurnya.

Dari penjelasan di atas, apakah bisa disimpulkan jika nyamuk jantan sama sekali tidak berbahaya bagi manusia? Bisa dikatakan demikian, sebab penularan penyakit oleh nyamuk dibawa ketika nyamuk menyuntikkan moncongnya ke kulit manusia. Dari proses inilah virus yang dibawa oleh nyamuk akan masuk ke dalam tubuh manusia dan mulai berkembang hingga menyebar.

Cara Menanggulangi Gigitan Nyamuk

Lalu bagaimana cara menanggulangi resiko penyakit akibat gigitan nyamuk? Yang pertama harus Anda lakukan tentu mengurangi populasi nyamuk. Pastikan jika tidak ada genangan air di area rumah Anda sehingga tidak menjadi tempat pembuahan telur nyamuk.

Kemudian sering gunakan lotion atau obat nyamuk untuk menghindari gigitan nyamuk. Memberikan aroma terapi di ruangan seperti aroma lavender/jeruk/ecaliptus dan lain-lain, juga akan membantu mengusir nyamuk. Sebab aroma-aroma segar ini sangat tidak disukai oleh nyamuk.

Sedangkan bagi Anda yang sudah terkena gigitan nyamuk yang berpotensi menyebabkan penyakit berbahaya, segera periksakan diri ke dokter. Sebab penyakit yang diakibatkan gigitan nyamuk perlu diatasi secepat mungkin, mengingat penyebaran dan perkembangan virus yang dibawa nyamuk sangatlah cepat.

BACA ARTIKEL TERKAIT:

4 comments
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Metamorfosis Kupu-kupu

Proses Metamorfosis Kupu-kupu

Metamorfosis Kupu-kupu – Hal apa yang ada di benak Anda ketika melihat kupu-kupu terbang di sekitar Anda? Tentunya Anda akan mengatakan wahhh cantiknya, atau wahhh bagus sekali, atau wah indah…
View Post