Landasan Teori

Contoh Landasan Teori Skripsi / Makalah (BAB 2)

Total
0
Shares

Bagi Anda yang sedang berkutat dengan tugas akhir yang bernama skripsi, tentunya Anda sudah tidak asing lagi dengan istilah landasan teori. Landasan teori ini menjadi teori pokok yang digunakan untuk menjabarkan penelitian yang Anda lakukan pada makalah atau skripsi.

Contoh landasan teori juga sudah mudah ditemukan dimana-mana, sehingga untuk Anda yang berencana membuat landasan teori sudah tidak perlu bingung lagi. Seperti halnya yang akan dibahas kali ini.

Ya, kali ini Anda akan diajak untuk mengetahui contoh landasan teori yang bisa dijadikan referensi. Mengingat landasan teori ini sangat penting bagi penelitian. Oleh sebab itu, landasan teori harus dibuat sebagaimana mestinya.

Landasan teori sering dikatakan sebagai fondasi utama dalam melakukan penelitian skripsi. Seperti halnya sebuah bangunan yang kuat, maka ia harus memiliki fondasi yang kuat. Hal ini juga sama, sebuah skripsi yang kuat harus dibuat dengan menggunakan landasan teori yang kuat juga.

Pengertian Landasan Teori

Landasan Teori

Berdasarkan pengertiannya, landasan teori adalah sebuah seperangkat konsep, definisi, proporsi yang telah disusun secara rapi dan sistematis dimana di dalamnya berisikan variabel-variabel yang sangat penting dalam sebuah penelitian.

Sebelum melakukan penelitian, maka peneliti harus membuat landasan teori terlebih dahulu. Oleh sebab itu, landasan teori harus dibuat dengan sebaik-baiknya. Dalam landasan teori ini juga berisikan teori para ahli yang akan mendukung penelitian yang Anda lakukan.

Landasan teori ini juga dibuat sesuai dengan judul penelitian yang dilakukan. Misalnya penelitian yang dilakukan untuk meneliti buah carica, maka di sini Anda harus mencari teori tentang buah carica, karakteristik buah carica, manfaatnya seperti apa dan masih banyak lainnya.

BACA ARTIKEL TERKAIT:

Dari ada Anda bingung landasan teori itu seperti apa? Yuk langsung saja simak landasan teori yang ada di bawah ini.

BAB 2: LANDASAN TEORI

A. Ilmu Pengetahuan Alam

1. Pengertian Ilmu pengetahuan Alam

Menurut H.W. Fowler, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) ilmu yang sistematik dan dirumuskan, dimana berhubungan dengan gejala-gejala kebendaan dan didasarkan terutama atas pengamatan dan induksi.

Menurut Nokes dalam bukunya ‘Science in Education’ menyatakan bahwa pengetahuan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) ialah pengetahuan teoritis yang diperoleh dengan metode khusus. jadi dapat disimpulkan bahwa pengertian Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah suatu pengetahuan teoritis yang diperoleh atau disusun dengan cara yang khas atau khusus, yaitu melakukan observasi, eksperimentasi, penyusunan teori, dan demikian seterusnya kait-mengait antara cara dengan yang lain.

2. Hakikat dan Tujuan Ilmu Pengetahuan Alam di MI

Tujuan pembelajaran IPA di SD/MI bertujuan agar siswa:

  1. Mengembangkan rasa ingin tahu dan suatu sikap yang positif terhadap sains, teknologi dan masyarakat.
  2. Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.
  3. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep sains yang akan bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Mengembangkan kesadaran tentang peran dan pentingnya sains dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Mengalihkan pengetahuan, keterampilan dan pemahaman ke bidang pengajaran lain.
  6. Ikut serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam.

3. Ruang Lingkup Materi Alat Indra dan Pemeliharaan

Alat indera adalah alat-alat tubuh yang berfungsi mengetahui keadaan luar. Alat indra manusia sering disebut panca indra, karena terdiri dari lima indra yaitu indra penglihatan (mata), indra pendengar (telinga), indra pembau (hidung), indra pengecap (lidah), indra peraba (kulit).

Setiap alat indra memiliki fungsi masing-masing bagi tubuh, apabila salah satu fungsinya tidak berfungsi maka alat indra tidak dapat bekerja dengan baik. Oleh sebab itu dilanjutkan untuk merawat kelima alat indra dengan memelihara alat indra yang sudah ada.

B. Belajar dan Pembelajaran

1. Pengertian Belajar

Belajar merupakan proses seseorang untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Seseorang dikatakan belajar apabila terjadi perubahan dalam dirinya. Perubahan tersebut menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor), maupun perubahan nilai dan sikap (afektif). Hanafiah dan Suhana dalam Kasmadi dan Sunariah menyatakan belajar adalah proses perubahan perilaku berkat adanya interaksi dengan lingkungan pembelajar. Perubahan perilaku tersebut mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Gagne dalam Susanto menyatakan belajar adalah suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Belajar dimaknai sebagai suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku. Sunaryo dalam Komalasari, menyatakan belajar merupakan suatu kegiatan dimana seseorang membuat atau menghasilkan suatu perubahan tingkah laku yang ada pada dirinya dalam pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

Berdasarkan pendapat ahli di atas, peneliti menyimpulkan bahwa belajar merupakan proses perubahan tingkah laku seseorang karena adanya interaksi dengan lingkungan. Interaksi tersebut menghasilkan perubahan dalam pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotor).

2. Teori Belajar

Banyak teori belajar yang telah dikembangkan. Winata putra menjelaskan bEberapa teori belajar sebagai berikut.

Teori Belajar Behavioristik

Teori belajar behavioristik mendefinisikan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku, khususnya perubahan kapasitas siswa untuk berperilaku (yang baru) sebagai hasil belajar, bukan sebagai hasil proses pematangan (atau pendewasaan) semata. Menurut teori belajar behavioristik, perubahan perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang akan memberikan beragam pengalaman kepada seseorang. Pada teori ini menekankan pada hasil belajar, yaitu perubahan tingkah laku yang dapat dilihat, dan tidak begitu memperhatikan apa yang terjadi di dalam otak manusia karena hal tersebut tidak dapat dilihat.

Teori Kognitif

Teori belajar kognitif memandang bahwa pada dasarnya setiap orang dalam bertingkah laku dan mengerjakan segala sesuatu senantiasa dipengaruhi oleh tingkat-tingkat perkembangan dan pemahamannya atas dirinya sendiri. Seseorang memiliki kepercayaan, ide-ide dan prinsip yang dipilih untuk kepentingan dirinya.

Teori Humanistik

Teori ini menjelaskan tentang pengaruh penguatan dari luar diri atau lingkungan seorang siswa, dan aktivitas kognitif dari dalam diri siswa digabungkan dengan filsafat dasar teori belajar humanistik, yaitu “memanusiakan manusia”, terhadap kemampuan siswa belajar melalui cara “modelling” atau mencontoh perilaku orang lain.

Teori Belajar Konstruktivis

Teori belajar konstruktivis memaknai belajar sebagai proses mengonstruksi pengetahuan melalui proses internal seseorang dan interaksi dengan orang lain. Dengan demikian, hasil belajar akan dipengaruhi oleh kompetensi dan struktur intelektual seseorang. Hasil belajar dipengaruhi pula oleh tingkat kematangan berpikir, pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya, serta faktor lainnya seperti konsep diri dan percaya diri dalam proses belajar.

Berdasarkan penjelasan tentang teori belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa teori yang mendukung model pembelajaran kooperatif yaitu teori kontruktivisme karena dalam teori tersebut dijelaskan bahwa belajar sebagai proses mengontruksi pengetahuan melalui proses internal dan interaksi dengan orang lain.

C. Hasil belajar

Hasil belajar diperoleh siswa setelah melalui kegiatan belajar. Setelah mengetahui hasil belajar siswa maka dapat diketahui apakah tujuan pembelajaran telah tercapai atau belum.

Suprijono menyatakan hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nila-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan keterampilan. Bloom dalam Suprijono menjelaskan bahwa hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor. Secara rinci dijabarkan sebagai berikut.

Domain Kognitif Mencakup

  1. Knowledge (pengetahuan, ingatan)
  2. Comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh)
  3. Application (menerapkan)
  4. Analysis (menguraikan, menentukan hubungan)
  5. Synthesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan baru)
  6. Evaluation (menilai)

Domain Afektif Mencakup

  1. Receiving (sikap menerima)
  2. Responding (memberikan respon)
  3. Valuing (nilai)
  4. Organization (organisasi)
  5. Characterization (karakterisasi).

Susanto mengemukakan bahwa makna hasil belajar yaitu perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri siswa, baik menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai hasil kegiatan belajar. Nawawi dalam Susanto menyatakan hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu.

Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli tersebut, peneliti menyimpulkan pengertian hasil belajar merupakan perubahan pada diri siswa yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotor yang tergambar dari skor yang diperoleh dari kegiatan belajar. Penelitian ini, hasil belajar yang diamati difokuskan pada ranah kognitif pada kata kerja operasional “menyebutkan”, “menjelaskan”, dan “menentukan”.

D. Pembelajaran

Pembelajaran merupakan proses, cara, dan perbuatan yang menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Degeng dalam Fathurrohman menyatakan pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan peserta didik. Sementara itu, Nata dalam Fathurrohman, menyebutkan bahwa pembelajaran adalah usaha membimbing peserta didik dan menciptakan lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar untuk belajar.

Susanto menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Masitoh menyatakan bahwa di dalam pembelajaran terdapat interaksi siswa dan guru, melibatkan unsur-unsur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan atau kompetensi yang diharapkan.

Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli, peneliti menyimpulkan bahwa pembelajaran merupakan usaha membantu siswa belajar dengan melibatkan unsur-unsur pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran melalui proses interaksi antara guru dan siswa.

1. Metode Pembelajaran

Model Pembelajaran

Model pembelajaran digunakan untuk mempermudah proses pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Arends dalam Fathurrohman model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang disiapkan untuk membantu peserta didik mempelajari secara lebih spesifik berbagai ilmu pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

Menurut Suprijono model pembelajaran ialah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial. Joyce dan Weill dalam Huda mendefinisikan model pengajaran sebagai rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum, mendesain materi-materi intruksional, dan memandu proses pengajaran di ruang kelas atau di setting yang berbeda.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, peneliti menyimpulkan bahwa model pembelajaran adalah rencana atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran untuk membantu siswa mempelajari secara spesifik berbagai ilmu pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Dengan menggunakan model pembelajaran akan membantu dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok. Rusman menyatakan pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Nur dalam Isjoni mengemukakan bahwa pembelajaran kooperation adalah model pembelajaran yang mengelompokkan siswa untuk tujuan menciptakan pendekatan pembelajaran yang berhasil mengintegrasikan keterampilan sosial yang bermuatan akademik.

Tipe Pembelajaran Kooperatif

Yang termasuk dalam tipe pembelajaran kooperatif seperti yang dikemukakan oleh La Iru dan La Ode adalah student teams achievement division (STAD), Numbered Head together (NTH), think pire share, jigsaw, teams games tournament, mind mapping, example non example, think walk write, dan tipe investigasi kelompok.

Model Pembelajaran Tipe Jigsaw

Dalam Jigsaw Aronson, para siswa membaca bagian-bagian yang berbeda dengan yang dibaca oleh teman satu timnya. Ini memang berguna untuk para ahli menguasai informasi yang unik, sehingga membuat tim sangat menguasai kontribusi tiap anggotanya. Jigsaw merupakan salah satu dari metode kooperatif yang paling fleksibel.

Pembelajaran Jigsaw diawali dengan pengenalan topik yang akan dibahas oleh guru. Guru bisa menuliskan topik yang akan dipelajari pada papan tulis, white board, penayang power point dan sebagainya. Guru menanyakan kepada peserta didik apa yang mereka ketahui mengenai topik tersebut. Kegiatan sumbang saran ini dimaksudkan untuk mengaktifkan skemata atau struktur kognitif peserta didik agar lebih siap menghadapi kegiatan pelajaran yang baru.

Strategi pembelajaran Jigsaw adalah strategi pembelajaran yang berupaya untuk mendalami sebuah materi dengan memberikan sudut pandang yang bervariasi dari setiap siswa. Hal ini sangat menarik dan membutuhkan peran aktif ataupun pemahaman yang baik terhadap materi yang akan dibahas. Adapun langkah-langkah dari metode ini adalah:

  1. Siswa dikelompokkan dalam empat tim.
  2. Tia orang dalam tim diberi materi yang berbeda.
  3. Tiap orang dalam tim diberi materi yang ditugaskan.
  4. Anggota dari tim yang berbeda, yang telah mempelajari bagian/subab yang sama, diberi dalam kelompok baru (kelompok ahli), untuk mendiskusikan subbab mereka.
  5. Setelah selesai berdiskusi, sebagai tim ahli, tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang subab yang mereka kuasai. Sementara anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
  6. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi mereka.
  7. Guru memberi evaluasi kepada seluruh siswa yang mencakup seluruh materi yang didiskusikan siswa.
  8. Guru menutup pembelajaran.

Dalam membuat landasan teori, setiap teori yang diambil harus sesuai dengan referensi yang relevan. Semoga dengan adanya contoh landasan teori di atas dapat membantu Anda dalam proses pembuatan skripsi. Ingat, skripsi memang berat, namun tidak ada hal yang lebih berat dari mencari pekerjaan setelah skripsi itu disidangkan.

1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Metamorfosis Kupu-kupu

Proses Metamorfosis Kupu-kupu

Metamorfosis Kupu-kupu – Hal apa yang ada di benak Anda ketika melihat kupu-kupu terbang di sekitar Anda? Tentunya Anda akan mengatakan wahhh cantiknya, atau wahhh bagus sekali, atau wah indah…
View Post