makna doa istiftah

Bacaan Doa Iftitah dan Kandungan Makna yang Tersimpan

Total
0
Shares

Doa Iftitah, ada yang menyebutnya Doa Istiftah. Meskipun Doa ini tidak wajib, namun sangat dianjurkan untuk membacanya dalam shalat. Sebab, tidak ada suatu riwayat yang mengatakan bahwa Ulama’ meninggalkan doa iftitah ini meskipun hanya sekadar.

Untuk pelaksanaannya, doa ini sunnah dibaca setelah takbiratul ihram sebelum membaca Al Fatihah. Untuk versinya sendiri, ada banyak sighat doa iftitah berdasarkan riwayat beberapa hadits.

Bacaan Doa Iftitah

Doa iftitah terdapat beberapa macam bacaan berdasarkan beberapa riwayat hadits. Disebutkan dalam kitab Nihâyatuz Zain, berikut adalah beberapa bentuk sighat dari bacaan doa istiftah itu:

Pertama:

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيْفاً مُسْلِماً وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ إِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Kedua:

الْحَمْدُ لِلهِ حَمْداً كَثِيْراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيْهِ

Ketiga:

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْراً وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا

Keempat:

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ غَسِّلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ.

Kelima:

اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَنْتَ رَبِّيْ وَأَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ذُنُوْبِيْ جَمِيْعاً فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ وَاهْدِنِيْ لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِيْ لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِيْ يَدَّيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ.

Dan sudah dianggap mencukupi dengan membaca pada salah satu dari bacaan doa di atas. Namun yang lebih utama yaitu membaca semuanya sekaligus jika melaksanakan shalat sendiri, atau ketika menjadi imam jika para jamaah rela shalatnya lebih lama.

Doa iftitah ini sebagaimana yang dibaca Rasulullah SAW semasa beliau Hidup. Sebagaimana diterangkan pada kitab Subulus Salam Syarah dari Bulughul Marom karya Imam Ash-Shan’ani, berikut adalah hadits-haditsnya:

Hadits riwayat Ali Bin Abi Thalib, bahwa Rasulullah setiap kali shalat selalu membaca doa ini:

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمآوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ، إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، لاَشَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَنْتَ رَبِّيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَظَلَمْتُ نَفْسِيْ وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ذُنُوْبِي جَمِيْعًا إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ، وَاهْدِنِيْ لِأَحْسَنِ الْأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

Hadits riwayat Abu Hurairah, bahwa setelah Rasulullah SAW takbiratul ihram beliau berhenti dulu sejenak sebelum membaca ayat alquran, kemudian Abu Hurairah bertanya apa yang dibaca Rasulullah itu, kemudian Rasulullah menjawab dengan membaca doa ini:

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِكِ وَالْمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

Ketiga adalah doa dari riwayat Khalifah Umar Bin Khattab, doa beliau:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

Syarat-syarat Sunnah Membaca Doa Iftitah

syarat doa iftitah

Kesunnahan dalam membaca doa iftitah ini ada empat syarat. Jika salah satu di antara syarat ini tidak terpenuhi, maka kesunnahan dalam membaca doa ini menjadi gugur dan hilang kesunnahannya, yaitu:

  1. Doa Iftitah sunnah dibaca dalam shalat selain shalat jenazah/ghoib. Artinya, pada shalat jenazah ataupun sholat ghoib tidak disunnahkan membaca doa iftitah ini.
  2. Waktu ketika melaksanakan shalat masih panjang dan masih cukup untuk membaca doa iftitah. Jika waktunya sempit dan dikira tidak cukup, maka tidak diperbolehkan membaca doa istiftah ini atau bagian-bagian sunnah lainnya. Artinya hanya melakukan yang wajib saja ketika shalat dalam keadaan waktu yang sempit.
  3. Ketika menjadi Makmum tidak dikhawatirkan ketinggalan membaca surat Al-Fatihah. Jika dirasa bisa ketinggalan dalam membaca surat Al Fatihah maka tidak disunnahkan membaca doa iftitah.
  4. Ketika menjadi makmum masbuq, doa iftitah hanya disunnahkan ketika menjumpai Imam dalam keadaan berdiri. Sebaliknya, tidak disunnahkan ketika menjumpai Imam tidak dalam keadaan berdiri (ruku’/sujud misalnya).

(*Diringkas dari: Muhammad bin Umar bin Ali Nawawi Banten, Nihâyatuz Zain, Songqopuro Indonesia, al-Haramain, cetakan pertama, halaman 62).

Pelajari Juga:

Syarat Sah Shalat dan Syarat Wajib Shalat yang Wajib Diketahui

Bacaan Sholat Lengkap dengan Arti dan Terjemah

Doa Qunut: Bacaan, Arti dan Penjelasanya Lengkap

Makna dan Arti Bacaan Doa Iftitah

makna doa istiftah

Kata “iftitah”, secara bahasa bermakna pembukaan, masih satu akar dengan kata “miftah” yang memiliki arti kunci atau alat pembuka. Maka, doa iftitah ini bisa dimaksudkan sebagai doa kunci yang memiliki fungsi sebagai pembuka dalam menjalankan shalat. Oleh karena itulah, kandungannya ini semacam suatu laporan dan kehadiran diri untuk memenuhi panggilan Allah SWT.

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمآوَاتِ وَالأَرْضَ

“Kuhadapkan wajahku kepada Dzat yang menjadikan langit dan bumi.”

Yang dimaksud dengan ‘wajah/muka’ bukanlah muka dzahir seperti muka secara fisik yang menghadap ke arah kiblat. Melainkan yang dimaksud adalah muka bathin yang menghadap Allah SWT.

Sebab pada hakikatnya yang memiliki kemampuan untuk melihat Allah dan mengenalnya adalah mata bathin. Setelah melapor atas kehadiran dalam memenuhi panggilan Allah, selanjutnya mengakui kelemahan dan kepasrahan diri, yaitu:

حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

“dengan condong dan berserah diri, dan aku bukanlah termasuk orang musyrik.”

Pada bagian ini terlihat sekali pengakuan seorang hamba atas kebesaran-Nya, yang telah memposisikan diri tidak ada apa-apaNya dibanding Allah.

Setelah melaporkan kehadiran dan pangakuan atas dirinya, baru kemudian seseorang berikrar atas posisi berbagai laku ibadahnya. Yaitu dalam lanjutan doa:

إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، لاَشَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah milik Allah Tuhan Semesta Alam, tiada sekutu bagi-Nya. Demikianlah aku diperintah, dan aku termasuk orang Muslim.”

Inilah bentuk dari kepasrahan total seorang hamba, tiada kemampuan dan kepemilikan dalam diri seorang hamba. Bukan hanya hidup dan mati, ibadah dan segala amal yang dilakukan semua dikembalikan kepada Allah SWT.

Demikianlah pembahasan singkat dalam BAB Doa Iftitah ini.

1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like